Biokultur https://e-journal.unair.ac.id/BIOKULTUR <p><strong>Biokultur (<a href="http://u.lipi.go.id/1346376814" target="_blank" rel="noopener">p-ISSN: 2302-3058</a> , <a href="http://u.lipi.go.id/1600960823" target="_blank" rel="noopener">e-ISSN: 2746-2692</a>)</strong> is a peer reviewed open access scientific journal published by Universitas Airlangga. <strong>Biokultur </strong>recieves manuscripts from both original article which is field-work research and literature review in the field of Anthropology. The scope of the anthropology includes; Social Anthropology; Physical Anthropology; Political Antropology; Culture and Society. <strong>Biokultur</strong> is published 2 times per year every June and December. Article could be written in either Bahasa Indonesia or English. Contributors for <strong>Biokultur</strong> are researchers, lecturers, students, social practitioners, politic practitioners, and other practitioners that focus on culture and society in Indonesia and worldwide.</p> Universitas Airlangga en-US Biokultur 2302-3058 <div id="custom-2"> <p align="justify">1. Copyright of this journal is possession of Editorial Board and Journal Manager, by the knowledge of the author, while the moral right of the publication belongs to the author.</p> <p align="justify">2. The formal legal aspect of journal publication accessibility refers to a <a href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/" rel="license">Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License</a> (CC BY-NC-SA).</p> <p align="justify">3. All publications (printed/electronic) is open access for educational purposes, research, and library. Other than the aims mentioned above, the editorial board is not responsible for copyright violation.</p> </div> Budaya Bersarung Masyarakat Kontemporer https://e-journal.unair.ac.id/BIOKULTUR/article/view/37113 <p>Fenomena budaya bersarung adalah bahasan penelitian yang digali menggunakan pendekatan etnografi. Informan yang terlibat adalah pelaku budaya bersarung dari beragam profesi dan latar belakang. Data diperoleh dari studi pustaka termasuk media online. Sarung adalah busana yang dikenal masyarakat Indonesia sebagaimana di banyak bagian negara lain di Asia. Sarung dipakai untuk menutup tubuh bagian bawah seperti busana adat daerah, mulai dari busana sehari-hari hingga busana pengantin. Barthes (1997) menyatakan busana sebagai pembentuk identitas kolektif sehingga didalamnya terkandung penanda bermakna. Di lain pihak Malcom Barnard (2002) menyebutkan bahwa fungsi busana tidak hanya sebagai pelindung tubuh namun juga sebagai alat komunikasi. Ketika sarung menjadi bagian dari busana sehari-hari, acara adat, ritual keagamaan hingga pernikahan, sarung telah mendukung aktivitas masyarakat maka ini adalah praktek budaya keseharian. Belakangan ini sarung untuk laki-laki maupun perempuan dipopulerkan kembali oleh masyarakat perkotaan khususnya pecinta fesyen. Selain pembiasaan baru tersebut, oleh sekolompok lain masyarakat sarung dibedakan peruntukannya berdasarkan motif. Ada pemahaman bahwa kaum laki-laki hanya pantas menggunakan sarung bila motifnya berciri geometris. Sarung sebagai budaya yang mengandung makna penting bagi masyarakat mewarnai kehidupan fesyen lokal.</p> <p>Kata kunci : sarung, budaya bersarung, motif, fesyen</p> Maria Nala Damajanti Copyright (c) 2022 Maria Nala Damajanti https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2022-07-12 2022-07-12 11 1 1 14 10.20473/bk.v11i1.37113 Labeling Siswa SMA Negeri Jurusan Bahasa di Kota Surabaya https://e-journal.unair.ac.id/BIOKULTUR/article/view/37111 <p>Labeling muncul di SMA Negeri di Kota Surabaya akibat masih banyaknya pandangan negatif yang menetap pada pemikiran masyarakat. Alasan penelitian ini dilakukan adalah karena masih sedikitnya studi mengenai label jurusan bahasa serta stigma negatif yang menempel pada masyarakat khususnya lingkungan keluarga dan sekolah yang memandang sebelah mata jurusan bahasa. Labeling menurut siswa jurusan bahasa adalah perilaku memberi julukan dan membandingkan suatu kelompok salah satunya jurusan bahasa. Label dimaknai akibat proses internal dan eksternal yang siswa alami dan muncul akibat perlakuan siswa lain pada jurusan bahasa yang sulit berubah. Label juga dimaknai secara individu dengan dasar sikap pasrah akibat kurangnya rasa kompak dan empati untuk menghilangkan label tersebut secara berkelompok.Studi ini dilakukan dengan tujuan mengetahui secara holistik bagaimana proses labeling terjadi pada siswa jurusan bahasa dan self-concept terhadap masa depan yang terbentuk akibat label negatif di SMA Negeri 18 Surabaya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan data yaitu observasi dan wawancara mendalam. Teknik analisis data dilakukan adalah kualitatif dengan informan berjumlah 7. Hasil penelitian dianalisis menggunakan teori labeling dan teori self-concept dari Carl Rogers menunjukkan bahwa, 1) Labeling yang terjadi pada siswa jurusan bahasa memberikan dampak pada perilaku siswa saat ini (real self), 2) Siswa jurusan bahasa cenderung berperilaku sesuai label yang diberikan dengan sikap pasrah yang dipengaruhi kultur kelas sebagai respon dari perasaan senasib terhadap label negatif, 3) Label tidak berdampak pada ideal self siswa jurusan bahasa dan cenderung ingin membuktikan bahwa label salah.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Kata Kunci: <em>labeling</em>, <em>self-concept</em>, jurusan bahasa, siswa SMA Negeri</p> Diana Nurhavina Copyright (c) 2022 Diana Nurhavina https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2022-07-12 2022-07-12 11 1 15 27 10.20473/bk.v11i1.37111 Between the Sustainable Development Narrative and the Environmental Crisis https://e-journal.unair.ac.id/BIOKULTUR/article/view/37109 <p>This study aims to find out what narratives of sustainable development are dominant and what is limited to the presentation of the contents of elementary school textbooks in Indonesia. This study uses quantitative and descriptive content analysis with an instrument in an analysis sheet based on theory. The data sources are 51 elementary thematic textbooks from grades one to six. The study results show that the concept of sustainable development (SDGs) consists of 17 goals and education for sustainable development (ESD). These aspects include social, environmental, economic Sustainability, inclusive development, generally widely spread across all grade levels with varying portions in each grade. The distribution of material related to Social Sustainability (SS) and Environmental Sustainability (EnS) aspects is presented in a small and limited percentage. Meanwhile, materials about aspects of Economic Sustainability (ES) and Sustainability of Inclusive Development (SID) have the most significant portion. Materials on economic growth and activities and the use of natural resources as the mainstay of sustainable development are still dominant, while the roots of the environmental crisis and prevention of ecological damage are still missing.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Keywords</strong>: Sustainable Development Goals, Education for Sustainable Development, Textbooks, Environmental Crisis</p> Ganes Gunansyah Copyright (c) 2022 Ganes Gunansyah https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2022-07-12 2022-07-12 11 1 28 44 10.20473/bk.v11i1.37109 Strategy Handling of Stunting Based on the Guidebook for Toddler Development in Bondowoso Regency, East Java https://e-journal.unair.ac.id/BIOKULTUR/article/view/32242 Stunting is a form of growth faltering due to the accumulation of insufficient nutrition that lasts for a long time starting from pregnancy until the age of 24 months. Data from the Bondowoso District Health Office, there are 24.16% or as many as 620 stunting toddlers at the Pujer Health Center in 2020. This number is the highest number of stunting cases in Bondowoso, and the stunting locus village in 2021 is in Alassumur Village, Pujer District. The purpose of this community service is to find out what factors are related to the incidence of stunting and to make a guidebook for toddler growth and development which is intended for health workers, posyandu cadres, and mothers of toddlers. The method used in this community service program is by measuring and interviewing. Measurements were made using anthropometric measurements including height or body length, weight, head circumference, arm circumference, triceps fat thickness, and subscapular fat thickness. Subjects were 128 children, the results showed that 22% or 28 children had stunting or short nutritional status and 13% or 16 children had very short nutritional status. The results of community service that have been carried out show that there are still stunting cases, the main cause being the high cases of early marriage and poor sanitation. Lucy Dyah Hendrawati Toetik Koesbardiati Myrtati Dyah Artaria Copyright (c) 2022 Biokultur https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2022-07-12 2022-07-12 11 1 45 54 10.20473/bk.v11i1.32242 Perspektif Mahasiswa terhadap Perilaku Mengonsumsi Gorengan https://e-journal.unair.ac.id/BIOKULTUR/article/view/36220 <p>Gorengan merupakan makanan yang dibuat dengan cara digoreng menggunakan minyak. Gorengan juga menjadi makanan yang cocok bagi mahasiswa yang memiliki jadwal padat untuk menahan rasa lapar sementara, meskipun, gorengan juga tidak baik jika dikonsumsi berlebihan. Penelitian ini menganalisis tentang pespektif mahasiswa terhadap perilaku mengonsumsi gorengan, dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Peneliti menggunakan <em>purposive sampling</em> untuk mendapatkan data dari 11 informan yang merupakan mahasiswa yang pernah mengonsumsi gorengan. Hasil dari penelitian ini adalah mahasiswa mengetahui bahwa gorengan mengandung lemak yang dapat menyebabkan obesitas dan penyakit, misalnya penyakit kardiovaskular, stroke, dan hipertensi. Meskipun mahasiswa mengetahui bahwa minyak yang digunakan untuk membuat gorengan tidak sekali pakai, mahasiswa masih mengonsumsi karena faktor personal, biologis, dan ekonomi, karena gorengan adalah kudapan yang memiliki rasa yang enak, harganya yang murah, dan dapat memberikan rasa kenyang sementara. Namun, ada juga mahasiswa yang membatasi mengonsumsi gorengan karena menjaga tubuh agar tidak gendut sehingga merusak penampilan.</p> Siti Rokhimah Hilma Infadatul Mubaiyanah Khalimatuz Zahro Alifta Firdaus Ika Yunita Dinar Hadi Setiyawan Wakhidatul Qomariyah Bayoghanta Maulana Mahardika Naria Whimca Qulby Dita Arta Mariana Sihombing Copyright (c) 2022 Siti Rokhimah Hilma, Infadatul Mubaiyanah, Khalimatuz Zahro, Alifta Firdaus, Ika Yunita Dinar, Hadi Setiyawan, Wakhidatul Qomariyah, Bayoghanta Maulana Mahardika, Naria Whimca Qulby, Dita Arta Mariana Sihombing https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2022-07-12 2022-07-12 11 1 55 66 10.20473/bk.v11i1.36220 Dugem di Kalangan Pelajar SMA Swasta di Kota Surabaya https://e-journal.unair.ac.id/BIOKULTUR/article/view/37105 <p>Surabaya sebagai kota terbesar kedua setelah Jakarta memiliki banyak tempat hiburan malam seperti tempat karaoke, tempat kongkow, bar dan diskotik. Diantara pelajar SMA yang memiliki aktivitas malam hari di diskotik adalah pelajar SMA swasta. Fenomena menarik peneliti untuk meneliti <em>dugem</em> pelajar SMA swasta di Kota Surabaya.</p> <p>Metode peneliti ini adalah metode etnografi lokasi penelitian di salah satu diskotik besar di Surabaya yaitu diskotik A. Penelitian ini dilakukan dengan observasi di diskotik besar yang ada di Kota Surabaya, peneliti melakukan&nbsp; wawancara mendalam kepada 5 informan pelajar SMA swasta. Lalu, observasi aktivitas pelajar SMA swasta di diskotik A, mentranskrip,mengkatagorikan mendeskripsikan hasil penelitian dan menganalisis menggunakan teori.</p> <p>Hasil dari penelitian ini menunjukkan pelajar SMA di kalangan swasta melakukan aktivitas <em>dugem</em> ke diskotik sebagai kegiatan mengisi waktu luang untuk bersenang- senang karena informan putus cinta, kesepian, bosan, kurangnya perhatian orang tua dan gaya hidup.&nbsp; Peneliti mendeskripsikan variasi perilaku <em>dugem</em> pelajar SMA swasta di lokasi <em>dugem</em> yaitu merokok, mengkonsumsi minuman beralkohol, mabuk, berjoget, menggoda, mencari pasangan, ciuman berkelahi dan sering mengunjungi diskotik. <em>Dugem</em> pelajar SMA swasta di Kota Surabaya juga berakibat uang saku habis, terlambat masuk sekolah dan prestasi menurun.</p> Jessica Ozymandias Rudiantari Copyright (c) 2022 Jessica Ozymandias Rudiantari https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2022-07-12 2022-07-12 11 1 67 72 10.20473/bk.v11i1.37105 Episteme PTM (Pertemuan Tatap Muka) SMA Kristen di Masa Covid-19 https://e-journal.unair.ac.id/BIOKULTUR/article/view/37108 <p>Penelitian ini mengkaji tentang episteme-episteme yang muncul dari siswa, orang tua dan guru terhadap Pertemuan Tatap Muka (PTM) yang mulai dilaksanakan kembali setelah dua tahun masa Covid-19 di SMA Kristen. Penelitian ini memiliki tujuan pemetaan episteme tentang PTM yang ada di lingkungan SMA Kristen. Foucault menjabarkan episteme sebagai bentuk pengetahuan yang otoritatif atau pengetahuan yang telah dimantapkan sebagai pemaknaan terhadap situasi tertentu pada suatu zaman. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan dianalisis melalui teori kekuasaan Foucault terkait dengan pengetahuan dan kekuasaan. Data diambil dengan melakukan <em>indepth interview </em>kepada tiga guru, dua siswa kelas 11, dua siswa kelas 10 dan empat siswa kelas 12 sebagai angkatan siswa yang menjalankan masa pembelajaran onsite sebelum pandemi dan masa online ketika pandemi berlangsung hingga saat ini kembali pada pembelajaran onsite. Dua pertimbangan mengenai pelaksanaan PTM yaitu pertimbangan wilayah aman dan wilayah tidak aman serta batasan waktu menjadi acuan dalam menentukan keputusan kapan waktu PTM dapat dilaksanakan dengan baik.<strong><em> </em></strong>Hasil penelitian menunjukkan bahwa…</p> <p><em> </em></p> <p><strong><em>Kata kunci</em></strong><em>: Pertemuan Tatap Muka; covid-19; SMA; Foucault; Kekuasaan</em></p> Sherly Deasy Anjuwita Gultom Copyright (c) 2022 Sherly Deasy Anjuwita Gultom https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2022-07-12 2022-07-12 11 1 73 84 10.20473/bk.v11i1.37108