Biokultur https://e-journal.unair.ac.id/BIOKULTUR <p><strong>Biokultur (<a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/1346376814" target="_blank" rel="noopener">p-ISSN: 2302-3058</a> , <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/1600960823" target="_blank" rel="noopener">e-ISSN: 2746-2692</a>)</strong> is a peer reviewed open access scientific journal published by Universitas Airlangga. <strong>Biokultur </strong>recieves manuscripts from both original article which is field-work research and literature review in the field of Anthropology. The scope of the anthropology includes; Social Anthropology; Physical Anthropology; Political Antropology; Culture and Society. <strong>Biokultur</strong> is published 2 times per year every June and December. Article could be written in either Bahasa Indonesia or English. Contributors for <strong>Biokultur</strong> are researchers, lecturers, students, social practitioners, politic practitioners, and other practitioners that focus on culture and society in Indonesia and worldwide.</p> Universitas Airlangga en-US Biokultur 2302-3058 <div id="custom-2"> <p align="justify">1. Copyright of this journal is possession of Editorial Board and Journal Manager, by the knowledge of the author, while the moral right of the publication belongs to the author.</p> <p align="justify">2. The formal legal aspect of journal publication accessibility refers to a <a href="http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/" rel="license">Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License</a> (CC BY-NC-SA).</p> <p align="justify">3. All publications (printed/electronic) is open access for educational purposes, research, and library. Other than the aims mentioned above, the editorial board is not responsible for copyright violation.</p> </div> Membangun Harmoni Melalui Komunikasi Antarbudaya Inklusif https://e-journal.unair.ac.id/BIOKULTUR/article/view/52513 <p>Isu agama merupakan salah satu dari faktor yang sering menimbulkan ketegangan dalam kehidupan sosial masyarakat Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dinamika komunikasi antabudaya di Surokarsan kota Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Subjek dalam penelitian ini yaitu sekretaris umum kerokhanian Sapta Darma, ketua persatuan warga Sapta Darma (Persada) kota Yogyakarta, warga anggota penganut Sapta Darma. Hasil penelitian menujukkan bahwa Komunikasi antarbudaya yang dilakukan oleh Sapta Darma Yogyakarta menyajikan contoh bahwa eksklusivitas hanya akan menghambat terciptanya integrasi sosial. Sebaliknya, sikap terbuka dan menghomati perbedaan keyakinan merupakan kunci penting dalam memperkuat persatuan. Komunikasi antarbudaya yang inklusif dapat meredam potensi meletusnya konflik horizontal yang berbasis sentimen agama.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Kata Kunci: Komunikasi Antarbudaya, Sapta Darma, Integrasi Sosial</p> Zola Panji Wicaksono Benni Setiawan Copyright (c) 2024 Biokultur https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2024-01-01 2024-01-01 12 2 60 73 10.20473/bk.v12i2.52513 Augmented Reality dalam Budaya Kontemporer Perspektif Simulacra dan Hiperreality Jean Baudrillard https://e-journal.unair.ac.id/BIOKULTUR/article/view/52433 <p>Dewasa ini teknologi Augmented Reality (AR) berkembang pesat. AR mulai digunakan dalam berbagai kehidupan, seperti industri, kesehatan, transportasi dan militer. AR tidak hanya masuk ke dalam kehidupan, melainkan membawa manusia ke kemajuan teknologi. Di sisi lain, AR bisa menjebak manusia hidup dilema realitas. Jean Baudrillard berpandangan bahwa manusia modern hidup dalam simulasi. Bahkan manusia berupaya untuk hidup dalam hipereality yang membuat manusia hidup dalam dunia sesuai dengan imajinasinya. Maka dari itu muncul pertanyaan apakah AR membuat manusia hidup dalam sebuah simulasi atau sudah menjadi hiperrealitas? Bagaimana AR mempengaruhi budaya manusia kontemporer? Untuk menjawab ini, digunakanlah metode studi pustaka. Singkatnya ditemukanlah ada sebuah dilema antara yang riil dan yang maya. Dilema ini membuat hidup manusia menjadi mengambang. Di satu sisi, manusia kurang menerima realitas. Di sisi lain, hidup dalam maya tidak membuat diri menjadi otentik 100%. Yang riil dan maya memiliki kelebihannya masing-masing. Dengan memanfaatkan keduanya secara maksimal, hidup manusia menjadi lebih mudah dan segala permasalahan hidup dapat diselesaikan dengan lebih mudah.</p> <p> </p> <p><strong>Kata kunci</strong>: Augmented Reality; Jean Baudrillard; Simulasi; Realitas</p> Thomas Rosario Babtista Copyright (c) 2024 Biokultur https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2024-01-01 2024-01-01 12 2 74 85 10.20473/bk.v12i2.52433 Peningkatan Literasi Mekanisme Penempatan PMI Sebagai Upaya Penanggulangan Undocumented Migrants di Lombok Timur https://e-journal.unair.ac.id/BIOKULTUR/article/view/52493 <p>Aktivitas Pekerja Migran Indonesia (PMI) telah menjadi fenomena sosial yang signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Meningkatnya angka jumlah PMI di Indonesia tidak dibarengi dengan upaya persiapan yang matang terkait wawasan calon PMI terhadap mekanisme penempatan. Hasilnya, masih ditemukan beberapa PMI yang tidak berdokumen lengkap atau <em>undocumented migrants</em>. Tulisan ini adalah hasil kegiatan pengabdian masyarakat terkait wawasan mekanisme penempatan calon Pekerja Migran Indonesia di Kawasan Lombok Timur, Juni 2023. Pemilihan Lombok Timur sebagai lokasi pengabdian berdasarkan pada angka partisipasi PMI tertinggi kedua di Indonesia. Untuk memperkuat hasil pengabdian, penelitian kualitatif dilakukan dengan menggunakan <em>indepth interview</em> dan <em>Focus Group Discussion </em>(FGD) dengan warga desa Pandan Wangi, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur dan perwakilan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa&nbsp; calon PMI masih tertarik untuk berangkat tanpa dokumen lengkap, salah satunya karena kurangnya pengetahuan dan wawasan. Calon PMI tidak tergerak untuk mencari sumber-sumber informasi terkait prosedur pemberangkatan mereka ke negara penempatan. Selain itu juga banyak dari calon PMI yang hanya sekedar percaya terhadap lembaga atau biro pelayanan dan perjalanan pekerja migran yang mereka ikuti tanpa mencari tahu kredibilitas yang bersangkutan.</p> Irfan Wahyudi Rachmah Ida Sri Endah Kinasih Dimas Ramadhiansyah Edyna Fortuna Copyright (c) 2024 Biokultur https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2024-01-01 2024-01-01 12 2 86 94 10.20473/bk.v12i2.52493 Peran Corporate Social Responsibility PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Boyolali dalam Pemberdayaan Keluarga Nelayan Waduk Kedung Omboh https://e-journal.unair.ac.id/BIOKULTUR/article/view/49323 <p>Program Berdikari di Fuel Terminal Boyolali telah dilaksanakan sejak tahun 2017 dengan sasaran ibu-ibu rumah tangga dan para pemuda-pemudi untuk dapat memiliki usaha. Pada tahun 2022 ini meluaskan program ke Desa Sarimulyo Kecamatan Kemusu dengan sasaran perempuan nelayan waduk kedungombo. Permasalahan masyarakat nelayan yakni minimnya pengetahuan dalam pengelolaan ikan, sehingga ikan hasil tangkap langsung dijual ke tengkulak yang mengakibatkan harga ikan tidak menentu. Hal ini kemudian membuat PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Boyolali melakukan pendampingan dengan membentuk kelompok perempuan nelayan jajanan iwak (JAWAK). Program ini sebagai wujud tanggung jawab perusahaan dengan melakukan pemberdayaan perempuan nelayan guna meningkatkan kapasitas dan memandirikan keluarga nelayan dengan mengurangi tingkat ketergantungan ekonomi terhadap tengkulak. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran program CSR dalam memberdayakan perempuan nelayan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni kualitatif dengan pengambilan data secara purposive sampling kepada aktor kunci, melakukan observasi dan studi literasi. Hasil penelitian ini yakni terdapat peran yang sangat besar dari kegiatan CSR FT Boyolali dalam mengurangi tingkat ketergantungan keluarga nelayan waduk dengan tengkulak. Peran tersebut meningkatkan nilai ekonomi ikan dengan kelompok Jawak&nbsp; menghasilkan produk turunan seperti ikan asap, kripik ikan dan lainnya.</p> <p>Kata kunci: Peran, CSR, Nelayan, Waduk Kedungomboh, Tengkulak</p> Afiarta Akbar Alfiyansyah Copyright (c) 2024 Biokultur https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2024-01-01 2024-01-01 12 2 95 104 10.20473/bk.v12i2.49323 Family Communication in Indonesian Migrant Worker's Extended Family https://e-journal.unair.ac.id/BIOKULTUR/article/view/52416 <p>This study aims to know what the communication orientation (conversation and conformity orientation) that occurs in the migrant workers’ extended family is; and what the obstacles to communication orientation that occur in the migrant workers’ extended family are. The lack of job opportunities for women who only graduated from elementary school and junior high school also directly influences the number of female migrant workers working abroad every year. For female migrant workers who already have children, the role of extended families such as the presence of their parents is very important in helping their spouses (husbands) in caring for their children. Using a qualitative approach, the data were gained through the process of interviewing informants. Informants in this study were selected purposively, they were: a woman who looks after her grandchild, aged 58 years (hereinafter referred to X1) and her daughter-in-law who works as a migrant worker, aged 30 years (hereinafter referred to X2); a woman who works as a migrant worker, aged 36 years (hereinafter referred to X3) and her son, aged 18 years (hereinafter referred to X4). X1 has been living with her granddaughter for about 3 years since her daughter-in-law (X2) became a migrant worker in Taiwan in 2018. After the data from the interviews are collected, then by using a triangulation table, the data will be selected based on the needs and similarities of the interview results between informants. From the same data, it is then adjusted to the existing conceptual framework and conclusions are drawn. The results show communication orientation for conversation that occurs in migrant workers' extended family consists of discussions to decide working abroad; when grandmother told her child about her granddaughter's growth, from conversations about school choices to parenting; giving freedom to the child to be able to express and convey their wishes and make decisions based on his own considerations. Meanwhile, the conformity orientation consists of giving advice for the child to be careful in making decisions (think before acting); and behave politely and always maintain health. The advice given is usually in the form of the cultivation of discipline, rules regarding politeness, attitude and also the cultivation of values. Subsequently, the obstacles to communication orientation that occur in migrant worker extended family consist of grandparents' health and grandparents' ability to use technology.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Keywords: Extended Family, grand parenting, family communication, and migrant worker</p> Chatia Hastasari Copyright (c) 2024 Biokultur https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2024-01-01 2024-01-01 12 2 105 116 10.20473/bk.v12i2.52416