Rumput Laut (Kappaphycus Alvarezii) sebagai Komoditas Unggulan dalam Meningkatkan Nilai Tambah Bagi Kesejahteraan Masyarakat Di Provinsi Nusa Tenggara Timur
[Seaweed (Kappaphycus Alvarezii) as Potential Commodity in Added Value Development for The Prosperity of Sumba Timur Regency Communities, Nusa Tenggara Timur Province]

Marcelien Djublina Ratoe Oedjoe, Felix Rebhung, Sunadji Sunadji

= http://dx.doi.org/10.20473/jipk.v11i1.10992
Abstract views = 636 times | views = 654 times

Abstract


Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi nilai tambah di antara tiga stakeholder utama pada usaha budidaya rumput laut di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yaitu pembudidaya, pedagang dan industri rumput laut telah dilakukan. Data kualitatif dan kuantitatif diperoleh lewat survei, observasi langsung, wawancara dan diskusi kelompok (Focus Group Discussion, FGD). Sampel/unit usaha budidaya rumput laut diambil secara representative dan purposive. Data yang dikumpulkan dianalisis secara deskriptif disertai perhitungan Pay Back Period (PBP), Break Even Point (BEP) dan Benefit Cost ratio (B/C). Hasil menunjukkan nilai PBP = 0,72 yang berarti unit usaha dapat mengembalikan modal dalam 8 bulan. Nilai BEP per unit usaha budidaya rumput laut sebesar Rp. 3.435,77 dan BEP produksi sebesar 2.007,50 kg. Nilai B/C ratio 1.09 menunjukkan bahwa usaha rumput laut di lokasi study layak dilaksanakan. Nilai tambah pada pembudidaya sebesar Rp 3.575/kg, pedagang sebesar Rp 2.175/kg dan industri rumput laut sebesar Rp 41.000/kg. Hasil penelitian ini memberikan kesimpulan bahwa pada tingkat kelayakan usaha budidaya rumput laut di NTT dewasa ini, nilai tambah tertinggi dinikmati oleh industri pengolahan rumput laut, diikuti pembudidaya dan pedagang.

Abstract
This study aims to determine the distribution of value added among the three main stakeholders in seaweed farming in the Province of East Nusa Tenggara (NTT), namely the farmers, traders and seaweed industries. The study applied a qualitative and quantitative method through a survey, direct observation, and interviews. Data were representatively and purposively collected. The study used descriptive analysis, focus group discussion, and simple mathematics. Results showed that payback period was 0.72 meaning that the investment could be returned in 8 months; break-even point (BEP) per seaweed culture business unit was IDR. 3,435.77; the break-even point of production was 2,007.50 kg; benefit-cost (B/C) was 1.09 meaning that the seaweed culture was feasible to do. There were 3 successive seaweed marketing channels such as producer, collector, merchant, manufacturer, consumer, or direct delivery from producers to consumers, producer to collecting merchant, big merchant to the consumer. The added value was IDR. 3,575/kg for the seaweed farmer, IDR. 2,175/kg for big merchant, and IDR. 41,000/kg for seaweed industry.


Keywords


Kappaphycus alvarezii,, nilai tambah, benefit Cost, BEP, Pay Back Period, keuntungan.

Full Text:

PDF

References


Basiron, Y. (2007). Palm Oil Production Through Sustainable Plantations. Europ Journal Lipid Sci Technol., 109 (4):289–295.

Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT. (2014). Statistik Perikanan dan Kelautan Provinsi NTT

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTT. (2014). Kebijakan Pengembangan Industri Agro di Provinsi Nusa Tenggara Timur (Tidak dipublikasi).

Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTT. (2014). Identifikasi dan Inventarisasi Komoditas Unggul di 11 Kabupaten Provinsi NTT, Laporan Hasil Penelitian (Tidak dipublikasi).

Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTT. (2015). Road Map Industri Rumput Laut di Provinsi Nusa Tenggara Timur (Tidak dipublikasi).

Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTT. (2016). Pengembangan Industri Makanan dan Minuman Program Penumbuhan dan Pengembangan Industri Berbasis Agro Nusa Tenggara Timur. Laporan Hasil Penelitian di 5 Kabupaten (Tidak dipublikasi).

Giyatmi, A. H., Purnomo, & Hubeis, M. (2003). Analisis Produk Unggulan Agroindustri Perikanan Laut di Kabupaten Rembang. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, 9:75-87.

Hayami, Y., Kawagoe, T., Morooka, Y., & Siregar, M. (1987). Agriculture marketing and processing in upland Java, A Perpective from a Sunda village, CGPRT No. 8. Bogor: CGPRT Center.

Hidayat, S., Marimin, S., Ani, S., & Yani, M. (2012). Modifikasi metode Hayami untuk perhitungan nilai tambah pada rantai pasok agroindustri kelapa sawit. Jurnal Teknologi Industri Pertanian, 22 (1):22-31.

Irmayani, Syarifuddin, Y., & Muhammad, N. (2014). Analisis Kelayakan Usaha Budidaya Rumput Laut Di Desa Mallasoro, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto. Jurnal Bisnis, 1(1):17-28.

Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. (2012). Kelautan dan Perikanan Dalam Angka 2012. Jakarta: Departemen Kelautan dan Perikanan.

Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. (2015). Pengembangan Industri Agro Daerah, Jakarta.

Ngamel, A. K. (2012). Analisa finansial usaha budidaya rumput laut dan nilai tambah tepung karaginan di Kecamatan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara. Jurnal Sains Terapan Edisi II, 2(1):68-83.

Nurhayati, P. (2004). Nilai tambah produk olahan perikanan pada industri perikanan tradisional di DKI Jakarta. Buletin Ekonomi Perikanan, 5(2):17-23.

Parenrengi, A., Sulaeman, E., Suryati, A., & Tenriulo. (2006). Karakteristik Genetika Rumput Laut Kappaphycus alvarezii yang Dibudidayakan di Sulawesi Selatan. Jurnal Riset Aquakultur, 1(1):1-11.

Preckel, P. V., Gray, A., Boehlje, M., & Kim, S. (2004). Risk and Value Chains: Participant Sharing of Risk and Rewards. Journal Chain and Network Services, 4(1):25-32.

Purwaningsih, R., & Widjaja, S. (2014). Pengembangan Model Sistem Dinamik Klaster Industri Perikanan Berkelanjutan pada Klaster Industri Perikanan Muncar. Proceeding Seminar Nasional Kelautan Universitas Hang Tuah. Surabaya.

Sukadi, F. (2007). Pengembangan Budidaya Rumput Laut di Indonesia. Makalah disampaikan pada Seminar Kebijakan Investasi Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan. P2HP. DKP.

Susilowati, I. (2013). Prospek Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Berbasis Ekosistem: Studi Empiris Di Karimunjawa. Jurnal Ekonomi Pembangunan, 14(1):16-37

Van Staden, C. J. (2000). The Value Added Statement: Bastion of Social Reporting or Dinosaur of Financial Reporting College of Business. NZ. Palmerston North: Massey University.

Xu, L., & Beamon, B. M. (2006). Supply Chain Coordination and Cooperation Mechanisms: an Attribute-Based Approach. Journal of Supply Chain Management, 42(1):4-12.

Ya’Ia, Z. R. (2008). Prospek Pengembangan Rumput Laut Di Kabupaten Morowali. Journal Agroland, 15(2):144-148.

Zulkarnain, Lamusa, A., & Tangkesalu, D. (2013). Analisis nilai tambah kopi jahe pada industri Sal-Han di kota Palu. e-Journal Agrotekbis, 1(5):493-499.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan

JIPK IS INDEXED BY :

 

                   

                 

                    

              

        

      

 

 

 

View JIPK Stats

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License

 

EDITORIAL  OFFICE

JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN (JIPK) /SCIENTIFIC JOURNAL OF FISHERIES AND MARINE

FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN, UNIVERSITAS AIRLANGGA
Kampus C UNAIR, Jl. Dharmahusada Permai No.330, Mulyorejo,
Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur. Indonesia. 60115
Telepon: (031) 5911451
Fax. (031) 5965741
Email : jipk@fpk.unair.ac.id

 

 

 This Journal is Supported by