MYASTHENIA GRAVIS

Myasthenia gravis receptor acetilcholine reseptor asetilkolin

Authors

November 15, 2019

Downloads

Myasthenia gravis adalah suatu penyakit autoimun disertai gejala kelemahan dan kelelahan dimana antibodi menurunkan sejumlah reseptor asetilkolin post sinap pada neuromuscular junction. Myasthenia gravis relatif jarang terjadi diperkirakan angka kejadiannya berkisar 5.3 per satu juta orang pertahun dan prevalensi rata-rata 77.7 per satu juta orang. Myasthenia gravis lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan  laki-laki. Perempuan yang mengalami myasthenia gravis cenderung pada usia dewasa muda, sedangkan pada laki-laki biasanya ditemukan pada usia lebih dari 50 tahun.  Perkembangan  neuromuscular junction  memerlukan sekelompok interaksi antara neuron motor dan serat otot. Agrin merupakan suatu protein yang disintesis oleh neuron motor dan disimpan dalam lamina basal sinaptik, menstimulasi muscle-spesific kinase (MuSK) suatu reseptor kinase yang diekspresikan secara selektif dalam otot bergaris. Sinyal ini mengelompok secara signifikan pada protein postsinaps termasuk reseptor acetilkolin pada  neuromuscular junction. Kekurangan agrin dan MuSK pada tikus menyebabkan kegagalan sinap pada neuromuscular dan menyebabkan kematian saat lahir karena tidak mampu bergerak dan bernapas. Sehingga MuSK dapat mengidentifikasi suatu antigen target pada pasien myasthenia gravis seronegatif untuk antibodi melawan reseptor asetilkolin. Penyebab dari penyakit myasthenia gravis antara lain: terdapat auto-antibodi yang memblokade reseptor asetilkolin, berhubungan dengan keganasan dan hiperplasia pada thymus. Kelemahan dan kelelahan abnormal pada otot dan membaik  dengan beristirahat merupakan karakteristik myasthenia gravis. Reaksi antibodi dan reseptor asetilkolin dapat terlihat pada 85%  serum pasien dengan myasthenia gravis.  CT-Scan thorax  atau MRI diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan thymoma dan penyakit lainnya yang menyertai myasthenia gravis.  Penatalaksanaan  dari  penyakit  myasthenia  gravis  ini  melibatkan dua kelompok obat-obatan yaitu  antikolinesterase dan immunosupresan (pada thymoma), dan pada kasus tertentu diperlukan transfusi plasma dan intravenous immune globin.

Most read articles by the same author(s)

1 2 > >>