Dialogis historikalitas dalam memahami teks Soeharto di era demokrasi

Zamrud Kondang Drajati

= http://dx.doi.org/10.20473/jsd.v13i2.2018.103-113
Abstract views = 9 times | downloads = 6 times

Abstract


Belakangan ini terjadi fenomena masyarakat rindu Soeharto. Salah satu gaya kerinduan itu adalah ditemukan sejumlah lukisan mural berisi kritikan halus tapi tajam namun bergenre menghibur tentang seorang Soeharto yang beredar di publik. Teks Soeharto itu, yakni teks Soeharto yang berbunyi “Piye Kabare Bro…?, Penak Jamanku To Le…?”. Teks ini ditemukan pada stiker atau gambar dibak-bak truk, mobil angkutan umum, mobil angkutan barang atau pick up, baju atau kaos, papan di jalanan, baliho, dan buku. Studi ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan paradigma interpretatif. Studi ini mengupas makna dan opini masyarakat mengenai teks Soeharto yang muncul pada era Demokrasi saat ini dengan bantuan pisau analisis Hermeneutika oleh Hans Georg Gadamer. Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa,  fenomena  tersebarnya  teks  Soeharto pada era Demokrasi ini dapat dilatarbelakangi oleh berbagai motif yang mengatasnamakan kerinduan rakyat pada Era Soeharto, yakni: motif ekonomi, motif politik, motif  sosial,  motif moralitas,  motif  humor,  dan  motif  iklan (propaganda) berupa pemberitahuan maupun ajakan, motif penunjukan identitas diri dan motivasi kritikan terhadap pemerintahan saat ini untuk kehidupan yang lebih baik. Selain itu terdapat 4 analisis Dialogis Historikalitas Gadamer, diantaranya: Pertama bildung, yaitu barang-barang yang menggunakan teks Soeharto, bahasa jawa dan bahasa gaul, baju safari, jas hitam dan peci, baju loreng, rokok klobot cigarillos, senapan api. Kedua sensus communis, yaitu opini masyarakat mengenai tersebarnya teks Soeharto dan makna senyuman, serta lambaian tangan Soeharto. Ketiga pertimbangan, yaitu makna senyuman Soeharto dan peci. Dan keempat selera, yaitu bahasa jawa dan bahasa gaul, baju safari, jas hitam dan peci, baju loreng, serta pandangan positif dan negatif teks Soeharto.


Keywords


teks Soeharto; Orde Baru; demokrasi; hermeneutika

Full Text:

PDF

References


Abdulgani-Knapp R (2007) Soeharto: The Life and Legacy of Indonesia’s Second President. Singapore: Marshall Cavendish Editions.

Adityawan A. (2008). Propaganda Pemimpin Politik Indonesia. Jakarta: LP3S.

Anderson BROG (1972) The Idea of Power in Javanese Culture in C. Rolt (Ed.) Culture and Politics in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press.

Anderson BROG (1996) Bahasa Politik Indonesia. Dalam: Latif Y dan Idi SI (editor). Bahasa dan Kekuasaan: Politik Teks di Panggung Orde Baru. Bandung: Mizan.

Anderson B (2007) The Idea of Power in Javanese Culture dalam buku Culture and Politics in Indonesia (ed) Claire Holt. Jakarta: Equinox Publishing.

Ashrianto PD (2016) Analisis semiotika film Janur Kuning sebagai representasi ideologi kekuasaan Soeharto. Nirmana 16 (1):1-11.

Bleicher J (2007) Hermeneutika Kontemporer. Penerjemah Khoiri, Imam. Yogyakarta: Fajar Pustaka.

Davey N (2012) Unquiet understanding: Gadamer's philosophical hermeneutics. Suny Press.

Elson RE (2001) Suharto, A Political Biography. Cambridge University Press.

Gadamer, H. G. (1975). Hermeneutics and social science. Cultural hermeneutics, 2(4), 307-316.

Gadamer HG (2004) Kebenaran dan Metode: Pengantar Filsafat Hermeneutika Penerjemah Sahidah, Ahmad dari judul asli Truth and Method. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Heryanto A (1993) Discourse and State-Terrorism: A Case Study of Political Trials in New Order Indonesia 1989-1990. A Thesis Submitted for the Degree of Doctor of Philosophy in the Department of Anthropology Monash University Australia.

Holt C (Ed.) (2007). Culture and politics in Indonesia. Equinox Publishing.

JK, Belinda, Lestari, Mayang & Alfan M (2014) Piye Kabare...? Penak Jamanku to!. Damian Press.

Muzir IR (2006) Hermeneutika Filosofis: Hans Georg Gadamer. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Mulder N (1978) Mysticism and Everyday Life in Contemporary Java: Cultural Persistence and Change. Singapura: Singapore University Press.

Palmer RE (2005) Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi. Penerjemah. Musnur Hery dan Damanhuri Muhammed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Piliang YA & Sihombing RM (2016). Figure replication in Soeharto visual meme. Jurnal Sosioteknologi 15 (1):32-40.

Poloma M (2004) Sosiologi Kontemporer. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Purnaweni H (2004) Demokrasi Indonesia: Dari masa ke masa. Jurnal Administrasi Publik 3 (2).

Ritzer, George dan Doulas JG (2005) Teori Sosial Modern. Jakarta: Kencana.

Salim A (2006) Teori dan Paradigma Penelitian Sosial: Buku Sumber Untuk Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Tiara Teks.

Selian DL & Melina C (2018) Kebebasan Berekspresi di Era Demokrasi: Catatan Penegakan Hak Asasi Manusia. Lex Scientia Law Review 2 (2):185-194.

Sparinga DT (1997) Discourse, Democracy, and Intelectuals in New Order Indonesia. (Disertasi Flinders University). Dalam: Yulianto, Andik. Kekuasaan Soeharto dan Simbol-simbolnya (Telaah Kekuasaan Soehrto dan Simbol- simbolnya dalam Teks Kumpulan Cerpen Soeharto dalam Cerpen Indonesia). Tesis Universitas Airlangga. Surabaya.

Sumartono W (2013) Gimana Kabarmu, Nak, Masih Enak Jamanku, Tho?. Jogjakarta: Palapa.

Wadipalapa RP (2015) Meme culture & komedi-satire politik: kontestasi pemilihan presiden dalam media baru. Jurnal Ilmu Komunikasi 12 (1):1-18.

Wardaya FBT (2007) Menguak misteri kekuasaan Soeharto. Galangpress Group.

Widjojo MS & Noorsalim M. (Eds.) (2004) Bahasa Negara Versus Bahasa Gerakan Mahasiswa: Kajian Semiotik atas Teks-Teks Pidato Presiden Soeharto dan Selebaran Gerakan Mahasiswa. Yayasan Obor Indonesia.

Van Langenberg M (1986) Analysing Indonesia’s New Order State: A keywords Approach. Review of Indonesian and Malaysian Affairs 20 (2):1-47.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2020 Dialektika

View Jurnal Sosiologi Dialektika Stats

Creative Commons License
JSD by Unair is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.