SAPA BALE BATU, BATU BALE DIA1: POLITIK REVIVALISME TRADISI SIWA LIMA ORANG “AMBON” PASCA KONFLIK

Hatib Abdul Kadir

= http://dx.doi.org/10.20473/lakon.v1i1.1918

Abstract views = 717 times | downloads = 2046 times

Abstract


Tulisan ini membahas tentang definisi siwa lima dan proses kemunculannya kembali karenadianggap mempunyai nilai pasifikasi serta rasa persatuan dalam menjaga perdamaian diAmbon pascakonflik. Redefinisi siwa lima sangatlah mendesak, mengingat pendukungkebudayaan di Pulau Ambon sangatlah beragam, terdiri beragam sub etnis dan penggunabahasa lokal yang diketahui masih aktif sebanyak 117 dari jumlah bahasa lokal yang pernahada kurang lebih 130-an. Disamping itu, munculnya modernitas semakin memperkuatmunculnya polarisasi antara agama Islam dan Kristen yang dipeluk oleh mayoritas masingmasingsub etnis. Menghidupkan kembali siwa lima adalah sebuah proses pencarianidentitas diri, mencari tahu siapa diri orang Ambon sesungguhnya, sehinggga dapatdijadikan sebagai modal sosial untuk menjali persatuan dan kebersamaan.

Keywords


Tradisi, Revivalisme, Ambon, Siwa Lima, konflik, identitas, etnis, modernitas

Full Text:

PDF

References


Abdul Kadir, Hatib. 2009. Bergaya di Kota Konflik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ajawaila, J.W 2009. “Siwalima dalam Perspektif Budaya di Maluku Tengah” dalam Seminar

Siwa lima Sebagai Falsafah Hidup Orang Maluku, 19-21 Oktober.

Ar Rijal, Sifar, t.t.. “Hikayat Tanah Hitu” URL: www.anu.edu.au

Basorie, Warief Djajanto. 2005. “Ambon: Conflict, Conciliation, and the Media”,

Journalismasia.

Benda Beckmann, Franz von. 2007. Social Security between Past and Future: Ambonese

Networks of Care and Support. Transaction Publishers.

Chauvel, Richard, Nationalists. 1990. “Soldiers and Separatists: The Ambonese Islands

from Colonialism to Revolt, 1880–1950.” Verhandelingen van het Koninklijk Instituut

voor Taal-, Land- en Volkenkunde; 143. Leiden: KITLV Press.

Cooley, F. L.. 1968. “Altar and throne in Central Moluccan societies” Practical Anthropology

: 118–37.

Bartels, Dieter. 1979. “Politicians and Magicians: Power, Adaptive Strategies an Syncretism

in the Central Moluccas” in Gloria Davis (ed.), What is Modern Indonesian Culture?

Athens: Ohio University Center for International Studies.

______________. 2003. Desember 14, “The Evolution of God in Space Islands: The

Converging and Diverging, of Phrotestant Christianity and Islam in the Colonial

and Postcolonial Periods”. Symposium “Christianity in Indonesia” at the Frobenius

Institute of the Johann Wolfgang Goethe University in Frankfurt/Main.

Castells, Manuel. 1997. The Power of Identity. Oxford: Blackwell.

Davidson, Jamie S. dan Henley, David. 2007. The Revival of Tradition in Indonesian Politics.

London & New York: Routledge.

Hobsbawn, Eric dan Ranger, Terence. 1993. The Invention of Tradition. Cambridge:

Cambridge University Press.

Hulsbosch, Marianne. 2004. Pointy shoes and pith helmets: dress and identity construction in

Ambon from 1850 to 1942. Wollongong: University of Wollongong.

Huliselan, Muh. 2009. “Siwalima dalam Perspektif Budaya di Maluku Tenggara,” dalam

dalam Seminar Siwa lima Sebagai Falsafah Hidup Orang Maluku, 19-21 Oktober.

Anonim. 2001. “Asia Report Indonesia: Overcoming Murder and Chaos in Maluku” ICG No. 10, 19 December.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Jurnal Lakon is indexed by:

 

 

Creative Commons License
LAKON by Unair  is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License. ]

View My Stats