ANALISIS SEMIOTIKA PADA CERITA RAKYAT WANDIU-NDIU

Salmatian Safiuddin

= http://dx.doi.org/10.20473/lakon.v8i2.19776
Abstract views = 1506 times | downloads = 3354 times

Abstract


Tradisi lisan adalah sebuah pesan yang disampaikan secara turun- temurun dari generasi tua ke generasi muda. Pesan ini dapat  berbentuk cerita rakyat, ucapan, pidato, lagu, dan lain-lain. Objek penelitian ini adalah salah satu cerita rakyat dari Pulau Buton, Sulawesi Tenggara yaitu Wandiu-ndiu. Penelitian ini memiliki dua rumusan masalah. Pertama, bagaimana kode- kode pada cerita rakyat Wandiu-ndiu. Kedua, bagaimana amanat dan fungsi sosial pada cerita  rakyat Wandiu-ndiu. Adapun tujuan penelitian untuk mendeskripsikan kode, amanat dan fungsi sosial yang ditemukan dalam cerita rakyat Wandiu-ndiu. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka dengan menggunakan teori Semiotika Roland Barthes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat lima kode, yaitu 1) kode hermeneutik, 2) kode proairetik/aksi, 3) kode semik/konotatif, 4) kode simbol, dan 5) kode budaya. Amanat yang terdapat dalam cerita rakyat Wandiudiu terdiri dari amanat tersirat dan amanat tersurat. Adapun fungsi sosial dalam cerita rakyat ini, yakni 1) fungsi kebudayaan, 2) fungsi pendidikan, dan 3) fungsi kemasyarakatan. Penelitian ini merupakan upaya pelestarian sastra lisan khususnya cerita rakyat sekaligus membantu pemerintah untuk melestarikan tradisi lisan dan dearah.

Keywords


Code, Folklore, Mandate, Social Function, Wandiu-Ndiu

Full Text:

PDF

References


Anshari. (2011). Representasi Nilai Kemanusiaan dalam Sinrilik Sastra Lisan. Makassar: P2i Press.

Barthes, Roland. (1983). Elements of Semiology. New York: Hill and Wang.

Danandjaya, James. (1994). Folklor Indonesia, Ilmu Gosip, Dongeng dan Lain-lain. Jakarta : Grafik Press.

Gusnawaty, G., Yastiana, Y., & Yassi, A. H. (2017). Ideational meaning of butonese foklore: A systemic functional linguistics study. Rupkatha Journal on Interdisciplinary Studies in Humanities, IX (1), 327-338. doi: https://dx.doi.org/10.21659/rupkatha.v9n1.33

Jufri. (2007). Metode Penelitian Bahasa, Sastra dan Budaya. Makassar Badan Penerbit UNM.

Moleong, Lexy.J. (2005). Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Nadifa, H. (2017). Gaya Bahasa dalam Sastra Lisan Wolio (Figurative Language in Oral Literary of Wolio). SAWERIGADING, 23(1), 49-59.doi: http://dx.doi.org/10.26499/sawer.v23i1.189

Paliang, Yasraf Amir. (2003). Hipersemiotika (Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna). Bandung: Jalasutra.

Ratnasari, Bella Cyntia. (2018). Belajar Sejarah Kesultanan di Benteng Keraton Buton, Sulawesi Tenggara. Teori Budaya. Kumparan.

Sahlan, A. (2016). Messages For Humanity In "Bula Malino"(Quiet Moon) (A Poem by Kaimuddin Idrus Muhammadalbuthuni Ibnu Badaruddin). IJLECR-International Journal of Language Education and Culture Review, 2(1), 43-51. Doi: https://doi.org/10.21009/IJLECR.021.05

Zoest, Aart Van. (1993). Semiotika Tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa yang Kita Lakukan Dengannya. Jakarta:Yayasan Sumber Agung.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Jurnal Lakon is indexed by:

 

 

Creative Commons License
LAKON by Unair  is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License. ]

View My Stats