Perlawanan Hegemoni Budaya dan Mitos pada Karya Seni Rupa Digital Biennale Jatim

Jokhanan Kristiyono

= http://dx.doi.org/10.20473/bk.v9i2.22365
Abstract views = 400 times | downloads = 721 times

Abstract


Penelitian ini menganalisis praktik seni melalui karya seni rupa digital yang dilakukan oleh seniman digital yang tergabung pada komunitas seni Biennale Jatim. Karya seni yang dianalisis ini untuk melihat secara mendalam dan eksploratif bagaimana ekspresi perlawanan dominasi dan hegemoni budaya, dominasi mitos yang melembaga pada masyarakat. Dengan pendekatan studi kualitatif melalui metode etnografi digital, peneliti melakukan eksplorasi secara medalam dengan observasi partisipasi proses penciptaan karya dan instalasi karya seni pada pameran Biennale Jatim 7. Dua karya seni yang dianalisis pada penelitian ini menunjukkan sebuah temuan penelitian yaitu gambaran nyata tentang perlawanan atas hegemoni (counter hegemony) lewat karya-karya seni. Perlawanan terhadap kondisi sosial masyarakat dan perlawanan terhadap budaya dan mitos pada masyarakat. Para seniman muda yang tergabung di komunitas seni digital Biennale Jawa Timur ini mengganggap praktik seni pada budaya Barat telah melakukan alienisasi terhadap masyarakat di Indonesia terutama masyarakat seni. Sebagai dampaknya, masyarakat Indonesia yang memiliki kultur sosial sangat berbeda dengan Barat, menjadi kaum yang inferior.


Keywords


praktik seni; karya seni digital; hegemoni budaya; perlawanan hegemoni dan mitos

Full Text:

PDF

References


Castells M (2010) The Rise of the Network Society. Massachusetts: Blackwell Publishing. https://doi.org/10.2307/1252090.

Cox RH & Schilthuis A (2012) Hegemony and counterhegemony. The Wiley‐Blackwell Encyclopedia of Globalization.

Denzin NK & Lincoln YS (2011) The SAGE handbook of qualitative research. Sage.

Djatiprambudi D (2017) Penciptaan Seni Sebagai Penelitian. In Seminar Nasional Seni dan Desain 2017: 24–30. State University of Surabaya.

Geertz C (2008) Thick description: Toward an interpretive theory of culture. In The Cultural Geography Reader: 41–51. Routledge.

Gerbaudo P (2014) The persistence of collectivity in digital protest. Information, Communication & Society, 17 (2): 264–268.

Gramsci A (2006) HEGEMONY, INTELLECTUALS. Cultural Theory and Popular Culture: A Reader, 1, 85.

Ida R (2015) Imagining Community in Contemporary Surabaya. Performing Contemporary Indonesia: Celebrating Identity, Constructing Community, 83.

Jurriëns E (2017). Visual Media in Indonesia: Video Vanguard. Routledge.

Kristiyono J (2017) Budaya Internet: Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Mendukung Penggunaan Media di Masyarakat. Scriptura: 23-30. https://doi.org/10.9744/scriptura.5.1.23-30.

Kristiyono J & Ida R (2019) Digital Etnometodologi: Studi Media dan Budaya pada Masyarakat Informasi di Era Digital. ETTISAL: Journal of Communication, 4 (2): 109–120.

Kristiyono J & Ida R (2020) Counter-hegemony of the East Java Biennale art community against the domination of hoax content reproduction. Masyarakat, Kebudayaan Dan Politik, 33 (1): 26–35.

Kumar S (2011) The exercise of hegemony in contemporary culture and media, and the need for a counter-hegemony initiative. Social Scientist, 39 (11/12): 33.

Lim M (2014) Seeing spatially: people, networks and movements in digital and urban spaces. International Development Planning Review, 36 (1): 51–72.

Mouffe C (2014) Hegemony and ideology in Gramsci. In Gramsci and Marxist Theory (RLE: Gramsci): 178–214. Routledge.

Pink S, Horst H, John P, Hjorth L, Lewis T, & Tacchi J (2016) Digital Ethnography: Principles and Practice. SAGE. https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004.

Rakhmat J (1997) Hegemoni budaya. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
BIOKULTUR by UNAIR is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

 

 

View My Stats