Pola Terapi pada Faktor Risiko Kardioserebrovaskuler Pasien Penyakit Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis

Rizaldy Taslim Pinzon, Martinus Bagas Hogantara Padmanaba, Esdras Ardi Pramudita, Sugianto Sugianto

= http://dx.doi.org/10.20473/jfiki.v6i12019.32-36
Abstract views = 689 times | downloads = 1284 times

Abstract


Pendahuluan: Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan penurunan fungsi ginjal secara progresif dan sudah berlangsung lama. Pola terapi pada PGK sangat bervariasi karena PGK memiliki banyak faktor risiko seperti penyakit kardioserebrovaskular sehingga perlu diberikan obat yang sesuai dengan penyakit yang mendasari. Tujuan: Mengidentifikasi profil pola terapi pada faktor risiko penyakit kardioserebrovaskular pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian cross sectional atau potong lintang dengan pendekatan deskriptif. Subjek yang diteliti adalah penderita penyakit Ginjal Kronis yang menjalani hemodialisis di RS Bethesda dan RS Panti Rapih Yogyakarta. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diambil dari data rekam medis. Analisis menggunakan data yang diambil dibuat dalam bentuk tabel. Hasil: Penelitian ini melibatkan 92 pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis terdiri dari 60 laki-laki (65,2%) dan 32 perempuan (34,8%) dengan rata-rata usia 50 tahun. Pasien dengan riwayat klinis yang berisiko menjadi penyakit kardioserebrovaskular dan belum mendapat pengobatan 39 orang (42,4%). Faktor risiko kardioserebrovaskular paling banyak adalah hiperhomosisteinemia 91 pasien (98,9%). Obat yang banyak digunakan untuk mengurangi terjadinya penyakit kardioserebrovaskular adalah asam folat dengan jumlah 81 pasien (89%), anti anemia 77 pasien (90,6%), dan anti hipertensi 74 pasien (90,2%). Kesimpulan: Pola terapi yang banyak digunakan adalah asam folat, anti anemia, dan anti hipertensi. Faktor risiko kardioserebrovaskular paling banyak adalah hiperhomosisteinemia.

Keywords


pola terapi, penyakit ginjal kronis, kardioserebrovaskular

Full Text:

PDF

References


Carter, L. & Barry, J. S. J. (2002) Hipertension (In: DiPiro, T. J., Talbert, R. L., Yee, G. Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach, 5th ed). St Louis: McGraww-Hill Companies.

Chang, P., Chien, L., Lin Y. F., Wu, M. S., Chiu, W. T. & Chiou, H. Y. (2016). Risk Factors of Gender for Renal Progression in Patients with Early Chronic Kidney Disease. Medicine (Baltimore); 95; 4203.

Fink, J. (2002) Treatment for the Anemia of Chronic Kidney Disease. http://www.medscape.com/viewarticle/445253. Accessed: 5 Desember 2018.

Gugun, A. M. (2008) Hiperhomosisteinemia dan Faktor Risiko Kelainan Vaskuler. Mutiara Medika; 8; 97-105.

Guldener, C. V. (2006) Why is Homocysteine Elevatedin Renal Failure and What Can be Expected from Homocysteine-lowering?. Nephrol Dial Transplant; 21; 1161–1166.

Hendromartono. (2014). Nefropati Diabetik (In: Setiati, S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 2, 6th ed). Jakarta: Interna Publishing.

KDIGO. (2013) Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Kidney Disease. Kidney International Supplements; 3; 1-50.

KDOQI. (2012) KDOQI US Commentary on the 2012 KDIGO Clinical Practice Guideline for Management of Blood Pressure in CKD. New York: National Kidney Foundation, Inc.

Krauss, A. G. & Hak, L. J. (2000) Chronic Renal Disease. Philadelphia: Lippicott William and Wilkins.

Kemenkes RI. (2017). InfoDATIN: Situasi Penyakit Ginjal Kronis. Jakarta: Kemenkes RI.

Lewis, M. J., St Peter, W. L. & Collin, A. (2002). End Stage Renal Disease. StLouis: McGraw-Hill Companies.

Lubis, H. R. (2014). Penyakit Ginjal Kronik. Jakarta: Interna Publishing.

Mallappallil, M. & Friedman, E. A. (2014). Chronic Kidney Disease in the Elderly: Evaluation and Management. Clinical Practice; 11; 525–535.

Nafrialdi, S. A. (2007). Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Departemen Farmakologi dan Terapeutik FK UI.

Subagio, S. W. (2014). Kejadian Penyakit Kardioserebrovaskular pada Penderita Penyakit Ginjal Kronik Stadium V dengan Diabetes Melitus dan Tanpa Diabetes Melitus. Skripsi; Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang.

Untari, M. K., Nugroho, A E. & Irijanto, F. (2014) Perbandingan Efek Terapi Kombinasi 2 Obat dengan 3 Obat Antihipertensi pada Pasien Hemodialisis. Journal of Management and Pharmacy Practice; 4; 215.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 JURNAL FARMASI DAN ILMU KEFARMASIAN INDONESIA

View JFIKI Stats

                

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License