NARASI SUBJEK PEREMPUAN DALAM GADIS KOLOT (1939) KARYA SOE LIE PIET

Dwi Susanto

= http://dx.doi.org/10.20473/mozaik.v19i2.13890
Abstract views = 865 times | downloads = 1943 times

Abstract


Karya sastra di era kolonial yang ditulis laki-laki menunjukkan sebuah gagasan tentang narasi subjek perempuan. Hal itu salah satunya muncul dalam teks Gadis Kolot (1939) karya Soe Lie Piet. Tujuan atau permasalahan dalam tulisan ini adalah (1) seperti apa teks Gadis Kolot (1939) menarasikan konstruksi identitas perempuan dan (2) mengapa pengarang sebagai wakil kelompok menghadirkan konstruksi perempuan. Sudut pandang yang digunakan adalah feminis pascakolonial, terutama konsep pembentukan identitas perempuan. Data penelitian ini diantaranya adalah isi karya, gagasan, konteks wacana kolonial dan perempuan, sosiologis pengarang, konteks sosial, dan lain-lain. Teknik interpretasi data dilakukan dengan pembongkaran gagasan teks dan menghubungakn pembacaan tekstual dengan wacana kolonial. Hasil penelitian adalah, pertama, konstruksi subjek perempuan diwujudkan dengan identitas perempuan yang resisten terhadap wacana kolonial, terutama gagasan dan pemikiran materialisme (liberalisme) Barat atas kelompok terjajah. Perempuan menjadi citra, simbol, sarana, dan tempat persembunyian laki-laki terjajah. Kedua, konstruski subjek perempuan merupakan konstruksi kelompok etnis dan golongan moderat dalam mempromosikan nilai tradisi atau leluhur. Dengan demuikian, perempuan tidak mampu dan tidak diberi kesemptaan untuk menyuarakan narasinya

kata kunci: wacana kolonial, peranakan Tionghoa, subjek perempuan.


Full Text:

PDF

References


Culler, Jonathan. 1983. On Deconstruction: Theory and Criticism after Structuralism. London: Routledge

Gandhi, Leela. 1998. Postcolonial Theory: A Critical Introduction. Edinburgh: Edinburgh University Press

Goldmann, Lucien. 1977. The Hidden God: A Study of Tragic Vision in the Pensees of Pascal and the Tragedies of Racine (terjemahan: Philip Thody). London and Henley: Routledge & Kegan Paul

Hamam, Kinana. 2015. “Postcolonialism and Feminism: An Intersectional Discourse of Reconstruction “, Journal of Postcolonial Writing, 15 Spring/Summer 2015, hlm. 10-12

Lewis, Reina dan Mills, Sarah (ed.). 2003. Feminist Postcolonial Theory: A Reader. Edinburgh: Edinburgh University Press

Minh Ha, Trinh T. 1996. “Women,Native, Other: Writing Postcoloniality and Feminism”, Mary Eagleton (ed.). Feminist Literary Theory: A Reader. Oxford: Blackwell Publishers

Ozkazanc-Pan, Banu. 2012. “Postcolonial feminist research: challenges and complexities”, Equality, Diversity, and Inclusion: An International Journal, Vol. 31 No. 5/6, 2012, hlm. 573-591, DOI 10.1108/02610151211235532

Paranjape, MR. 2012. “Beyond the subaltern syndrome: Amitav Ghosh and the crisis of the bhadrasamaj”. Journal of Commonwealth Literature, Vol. 47, No. 3, 2012, hlm. 357-374

Parashar, Swati. 2016. “Feminism and Postcolonialism: (En)gendering Encounters” , Postcolonial Studies, Vol. 19, No. 4, 2016, hlm. 371-377

Prasojo, Albertus dan Susanto, Dwi. 2015. “Konstruksi Identitas dalam Sastra Terjemahan Eropa Era 1900-1930 dan Reaksinya dalam Sastra Indonesia”, Humaniora, Jurnal Budaya, Sastra, dan Bahasa, Vol. 27, No. 3, Oktober 2015, hlm. 283-282

Sabo, O. (2012). Disjunctures and dispora in Kiran Desai’s The Inheritance of Loss”, Journal of Commonwealth Literature Vol. 47, No. 3, 2012, hlm. 375-392

Said, Edwar. 2001. Oreintalisme.(penerjemah: Asep Hikmat). Bandung: Mizan

Salmon, Claudine. 1981. Literature in Malay by the Chinese of Indonesia: a provisional annotated bibliography. Paris: Editions de la Masion des Sciences de l’Homme

Salmon, Claudine. 2005. “Confucianists and Revolution in Surabaya (c. 1880-c. 1906)”, Tim Lindsey and Helen Pausacker (ed.). Chinese Indonesians Remmbering, Distoring, Forgetting. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies

Saputra, Asep Deni. 2011. “Perempuan Subaltern dalam Karya Sastra Indonesia Poskolonial”, Literasi Vol. 1, No. 1, Juni 2011, hlm. 16-30

Schwarz, H., dan Ray S. (ed.). 2005. A Companion to Poscolonial Studies. Oxford: Blackwell Publishing Ltd.

Soe Lie Piet. 1939. Gadis Kolot. Malang: Paragon

Spivak, Gayatri C., 1988. “Can the subaltern speak?”, dalam Nelson, C. dan Grossberg, L. (ed.) Marxism and the Interpretation of Culture. Urbana, Illinois: University of Illinois Press

Suryadinata, Leo. 1988. Kebudayaan Minoritas Tionghoa di Indonesia. Jakarta: Gramedia

Susanto, Dwi. 2016. “Identitas Keindonesiaan dalam Drama Indonesia di Era Pujangga Baru (1930-1942), Atavisme, Vol. 19, No. 1, Edisi Juni 2016, hlm. 60-74

Susanto, Dwi. 2017. “Subjek Peranakan Tionghoa yang Ambigu dalam Drama Karina-Adinda (1913) Karya Lauw Giok Lan”, Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, Vol. 17 No. 2 Oktober 2017, hlm. 151-164

Talpade-Mohanty, Chandra. 1994. “Under Westren Eyes: Feminist Scholarship and Colonial Discourse”, Patrick Williams and Laura Chrisman (ed). Colonial Discourse and Postcolonial Theory: A Reader. New York: Columbia University Press

Young, RJC. 2003. Postcolonialism: A Very Short Introduction. New York: Oxford University Press


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2020 Dwi Susanto

    

  

 

Free counters!

View Mozaik Stats

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.