Makna Budaya Wacana Ritual Saulak pada Masyarakat Kampung Mandar Kabupaten Banyuwangi: Kajian Etnolinguistik
Downloads
Penelitian ini berjudul "Makna Budaya Wacana Ritual Saulak pada Masyarakat Kampung Mandar Kabupaten Banyuwangi: Kajian Etnolinguistik” bertujuan untuk mendeskripsikan makna budaya yang terdapat dalam wacana ritual Saulak. Penelitian dilakukan di Kelurahan Kampung Mandar, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat etnografi dengan metode pengumpulan data (1) observasi non partisipasi; (2) wawancara dibantu dengan teknik catat dan rekam. Wawancara dilakukan dengan bantuan narasumber ahli seperti passili yang merupakan pemimpin ritual Saulak. Analisis dilakukan pada tataran leksikal dari kode yang terdapat dalam wacana ritual Saulak, baru kemudian dihubungkan atau dikaitkan dengan makna budaya yang berlaku.Kode dalam penelitian ini adalah nama-nama sesaji serta mantra ritual Saulak.Analisis terhadap nama-nama sesaji dilakukan untuk melihat keterkaitkan antara kode tersebut dengan mantra dan makna budaya.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wacana ritual Saulak ini mengandung makna budaya dan filosofi hidup masyarakat Mandar.Makna budaya tersebut adalah permohonan perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui perantara leluhur atau nenek moyang.Selain itu ditemukan pula adanya bentuk pemertahanan bahasa Mandar melalui mantra yang terdapat dalam ritual Saulak yang menjadi identitas khas suku Mandar, yang membedakannya dengan suku lainnya di Banyuwangi.
Kata kunci : Kampung Mandar Banyuwangi, makna budaya, ritual Saulak, wacana ritual.
Biddin, M. Rizalul. 2017. Wacana Ritual Pertanian Masyarakat Mojoagung: Kajian Etnolinguistik. Skripsi. Tidak diterbitkan. Surabaya: Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Airlangga
Duranti, Alessandro. 1997. Linguistic Anthropology. Cambridge: Cambridge University Press.
Halliday, M.A.K dan Ruqaiya Hasan. 1985. Bahasa, Konteks, dan Teks: Aspek Bahasa dalam Pandangan Semiotik Sosial. Terjemahan oleh Asruddin Borori Tau. 1992. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Hoed, Benny H. 2008. Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya. Jakarta: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI Depok.
Ismail, Arifuddin. 2012. Agama Nelayan: Pergumulan Islam dengan Budaya Lokal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Koentjaraningrat. 2007. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Kridalaksana, Harimurti. 1982. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia.
Kusumarini, Yusita. 2006. Teori Semiotika. Surabaya: Universitas Kristen Petra.
Liswati. 2016. Ritual Adat Mappalili di Segeri Kabupaten Pengkep. Skripsi. Tidak diterbitkan. Makassar: Fakultas Adab dan Humaniora. UIN Alauddin Makassar.
Malinowski, Bronislaw. 2010. Magic, Science, and Religion, and Other Essays. Montana, US: Kessinger Publishing, LLC.
Nuryani. 2013. Struktur Wacana Ritual (Studi Kasus Ritual Selametan di Pesarean Gunung Kawi, Malang, Jawa Timur). Adabiyyat, 12(1), 1-24.
Solihah, E. 2011. Ngaben Sarat dan Relevansinya di Masa Kini. Skripsi. Tidak diterbitkan. Jakarta: Fakultas Ushuluddin. UIN Syarif Hidayatullah.
Tangkas, Made Reland Udayana. 2015. Tuturan Majejiwan dalam Ritual Mapaselang di Bali: Kajian Linguistik Kebudayaan. Linguistika, 22, 55-75.
Windiarny, Anastasia Yanuar. 2012. Makna Budaya Saulak Pada Masyarakat Nelayan Bugis. Skripsi. Tidak diterbitkan. Jember: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Jember.
Copyright (c) 2021 ETNOLINGUAL

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
1. Copyright of this journal is possession of Editorial Board and Journal Manager, by the knowledge of author, whilst the moral right of the publication belongs to the author.
2. Legal formal aspect of journal publication accessibility refers to Creative Commons Atribusi-Non Commercial-ShareAlike (CC BY-NC-SA),implies that publication can be used for non-commercial purposes in its original form.
3. Every publications (printed/electronic) are open access for educational purposes, research, and library. Other that the aims mentioned above, editorial board is not responsible for copyright violation.