IDENTIFIKASI DAN PREVALENSI CACING ENDOPARASIT PADA IKAN SWANGGI (Priacanthus macracanthus) DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA BRONDONG, LAMONGAN

Ferry Dwi Firmansyah Liananda, Kismiyati Kismiyati, Gunanti Mahasri, Putri Desi Wulan Sari

= http://dx.doi.org/10.20473/jafh.v6i3.11288
Abstract views = 313 times | views = 211 times

Abstract


Ikan swanggi (Priacanthus macracanthus) merupakan salah satu jenis ikan laut yang memiliki kandungan protein sebesar 83,4%. Harga Ikan swanggi (P. macracanthus) mencapai Rp.9.000/kg merupakan ikan yang memiliki permintaan pasar tinggi. Ikan swanggi (P. macracanthus) yang dikonsumsi oleh masyarakat masih berasal dari tangkapan alam, dimana kualitas airnya tidak terkontrol sehingga ikan mudah terserang parasit. Penyakit yang menyerang Ikan swanggi (P. macracanthus) kemungkinan disebabkan oleh faktor kondisi lingkungan yang kurang baik sehingga menurunkan daya tahan tubuh, menyebabkan ikan mudah terinfeksi oleh cacing endoparasit seperti Anisakis simplex. Cacing ini bersifat zoonosis dan dapat menginfeksi manusia, oleh karena itu dilakukan identifikasi dan prevalensi cacing endoparasit pada ikan swanggi (P. macracanthus). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk identifikasi dan mengetahui prevalensi spesies cacing endoparasit apa saja yang menginfeksi ikan swanggi (P. macracanthus) dari hasil tangkapan nelayan. Penelitian ini menggunakan metode survei melalui pengambilan sampel pada lokasi secara langsung. Lokasi pengambilan sampel ikan ditentukan dengan cara sengaja atau dengan metode purposive sampling (Silalahi, 2003). Metode pengambilan sampel dilakukan secara acak (random sampling) terhadap ikan swanggi (P. macracanthus) di Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong, Lamongan. Hasil penelitian ditemukan Cacing A. simplex pada organ otot dinding dalam abdomen, lambung, ginjal, hati, usus, dan gonad ikan swanggi (P. macracanthus). Faktor yang mempengaruhi ditemukannya Larva stadium tiga A. simplex ialah makanan dari ikan swanggi (P. macracanthus). Umumnya ikan swanggi (P. macracanthus) yang merupakan ikan karnivora memakan invertebrata (copepods atau crustacea) yang mengandung Larva stadium dua Anisakis simplex, cacing ini bersifat zoonosis. Total prevalensi cacing A. simplex yang ditemukan pada ikan swanggi (P. macracanthus) adalah 90 ekor ikan (74,99%).dan termasuk dalam kategori usually. 


Keywords


Ikan Swanggi; Identifikasi; Prevalensi; Prevalensi; Anisakis; Zoonosis

Full Text:

PDF

References


Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi. 2010. Database Nilai Gizi Ikan.http://www.bbp4b.litbang.kkp. go.id/nilaigizi/index.php?x=profil.p hp&&u=nama_ikan&&arah=1 [1 Maret 2015]

Batara, R. J. 2008. Deskripsi Morfologi Cacing Nematoda pada Saluran Pencernaan Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) dan Ikan Kakap Merah (Lutjanus spp.). Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan. Institut Pertanian Bogor. 52 hal.

Direktorat Jenderal Perikanan. 2013. Statistik Perikanan Indonesia 2012. Departemen Pertanian. Jakarta. Hal 75.

Emelina, N. 2008. Cacing Parasitik pada Insang Ikan Kembung (Decapterus spp). Skripsi. Fakultas Kedokteran

Hewan. Institut Pertanian Bogor.

Bogor. 56 hal.

Fitriyanti, R. 2000. Inventarisasi Parasit

Metazoa pada Ikan Kurisi (Nemipterus Japonicus Bloch, 1791), Ikan Swanggi (Priacanthus macracanthus Cuvier, 1829) dan Ikan Layang (Decapterus Rusell Ruppel, 1830) dari Tempat Pelelangan Ikan Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. 105 hal.

Grabda J. 1991. Marine Fish Parasitology. Poland: Polish Scientific Publishers, Warsawa. Hal 142- 155.

Jannah, R. 2013. Konflik Sosial Di Tempat Pelelangan Ikan Di Brondong Tahun 1998. Avatara, e-journal Pendidikan Sejarah. I (1) : 84-92.

Kabata, Z. 1985. Parasites and Diseases of Fish Cultured in the Tropics. Taylor and Francis. London and Philadelphia. pp. 31-173.

Klimpel, S., H. W. Palm, S. Ruckert and U. Piatkowski. 2004. The Life Cycle of Anisakis simplex in The Norwegian Deep (Nothern North Sea). Parasitol Res. 94: 1-9.

Khairiyah. 2011. Zoonosis dan Upaya Pencegahan (kasus Sumatera Utara). Jurnal Litbang Pertanian, 30(3) : 117-124.

Kuhlmann, W.F. 2006. Preservation, Staining, and Mounting Parasite Speciment. 8p.

Pauly, D and P. Martosubroto. 1996. Baseline Studies of Biodiversity : The Fish Resources of Western Indonesia. Directorate General of Fisheries, Jakarta : 24-25.

Muhammed, A. A. 2007. Parasites of Some Imported Fish. Thesis. Veterinary Medical Sciences. Zagazig University. Egypt. 110 p.

Pusat Informasi Pelabuhan Perikanan. 2015. Grafik Produksi Ikan Pelabuhan Perikanan. http://pipp.djpt.kkp.go.id/index.php /produksidanharga [1 Maret 2015]

Silalahi, G. A. 2003. Metodologi Penelitian dan Studi Kasus. Citramedia. Sidoarjo. 152 hal.

Sindermann, C. J. 1990. Principle Disease of Marine Fish And Shelfish. 2nd Edition. Academic Press. Inc. San Diego. pp. 281-283.

Wangsadinata, V. 2009. Sistem Pengandalian Mutu Ikan Swanggi (Priacanthus macracanthus) (Studi Kasus di CV. Bahari Express, Palabuhan Ratu, Sukabumi). 90 hal.

Williams, E. H.and I. B. Williams. 1996. Parasites of Offshore Big Game Fishes of Puerto Rico and The Western Atlantic. Puerto Rico. Departement of Natural and Environtmental Resources. 382 hal.

Zubaidy, A. 2010. Third- Stage Larvae of Anisakis simplex (Rudolphi, 1809) in the Red Sea Fishes, Yemen Coast, JKAU: Mar. Sci., 21, No. [1] : 95-112.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 Ferry Dwi Firmansyah Liananda, Kismiyati Kismiyati, Gunanti Mahasri, Putri Desi Wulan Sari

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Indexing by:

      

     

  

 

JAFH

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License