Hubungan antara Harapan (Hope) dengan Resiliensi Terhadap Istri yang Mengalami Involuntary Childless

Rusliyanti Muharromah, Wiwin Hendriani

= http://dx.doi.org/10.20473/jpkm.V4I12019.19-27
Sari views = 997 times | downloads = 272 times

Sari


Penelitian ini bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya hubungan antara harapan (hope) dengan resiliensi pada istri yang mengalami involuntary childless. Penelitian ini ditujukan untuk istri involuntary childless yang memiliki usia pernikahan 5 tahun atau lebih. Jumlah subjek dalam penelitian adalah 66 orang. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah skala harapan State Hope Scale (SHS) (Snyder e. a., 1996) berjumlah 6 aitem (α= 760), skala resiliensi Resilient Quotient (RQ) (Reivich & Shatte, 2002) yang telah ditranslasi oleh Mardiani (2012) berjumlah 32 aitem (α=0,789). Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, diperoleh hubungan yang positif (R=0,280, p<0,05) antara harapan (hope) dengan resiliensi pada istri yang mengalami involuntary childless. Hal tersebut dapat diartikan bahwa semakin tinggi tingkat harapan yang dimiliki, maka semakin tinggi pula resiliensi yang dimilikinya, begitupula sebaliknya.

 

This study aimed to study should there be any relationship between hope and resilience on involuntary childless wife. The participants of the study were involuntary childless wives whose marriage age was 5 years or more. There were 66 participants. The measuring instrument of hope was Snyder’s State Hope Scale (1996) with 6 items (α= 760). The measuring instrument of resilience was Reivich & Shatte’s Resilient Quotient (2002) containing 32 translated items (α=0.789). The data analysis result confirmed that there was a positive correlation (R=0.280, p<0.05) between hope and resilience on involuntary childless wives. The results showed that higher level of hope signifies a higher level of resilience and vice versa.


Kata Kunci


Harapan; Involuntary Childless; Resiliensi

Teks Lengkap:

PDF (English)

Referensi


Azizah, N. (2016). Problem Psikologis Istri yang Belum Dikarunai Anak di Desa Sridadi Kecamatan Sirampog Kabupaten Brebes. Purwokerto: Fakultas Dakwah dan Komunikasi Institut Agama Islam Negeri Purwokerto.

Bachtiar, A. (2001). Menikahlah, Maka Engkau Akan Bahagia. Jogjakarta: Saujana.

Bird, G. K. (1994). Families and intimate relationship. New York: Mc- Graw Hill Inc.

Chintia T.S., R. S. (2015). Perceraian Karena Tidak Memiliki Keturunan dan Campur Tangan Orang Tua (Studi Putusan Perkara Nomor 1294/Pdt.G/2011/PA.Mlg Korelasinya dengan Pasal 19 huruf f Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1975). Jurnal Fakultas Hukum Universitas Brawijaya.

Hidayah, N. (2010). Nilai Anak, Stress Infertilitas dan Kepuasan Perkawinan pada Wanita yang Mengalami Infertilitas. Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan.

Juu, S. T., & Chen, Y. C. (2006). Transforming Hope: The LIved Experience of Infertile WOmen Who Terminated Treatment After in Vitro Fertilization Failure. Journal of Nursing Research, 14.

Khoiri, Q. (2017). Harapan (Hope) untuk memiliki anak pada wanita dewasa awal yang mengalami Involuntary Childless. Skripsi Universitas Airlangga, 1- 10.

Laksmi, V. A., & Kustanti, E. R. (2017). Hubungan antara dukungan sosial suami dengan resiliensi istri yang mengalami Involuntary Childless. Jurnal Empati, 431- 435.

Lestari, S. (2012). Psikologi Keluarga: Penanaman nilai dan penanganan konflik dalam keluarga. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Malik, A. (2013). Efficacy, Hope, Optimism and Resilience at Workplace – Positive Organizational Behavior . International Journal of Scientific and Research Publications, 1- 4.

Miall, C. E. (1986). The Stigma of Involuntary Childlessness. Social Problems, 33.

Monach, J. H. (2003). Childless: No Choice. The Experience of Involuntary Childlessness. New York: Taylor & Francis e- Library.

Nasrabad, H. B., Shavazi, M. J., & Moeinifar, M. (2011). Are we facing a dramatic increase in infertility and involuntary childlessness that lead to lower fertility?

Omu, F. (2010). Emotional reaction to diagnosis of infertility in Kuwait and successful clients’ perception of nurses’ role during treatment. Retrieved from http://www.biomedcentral.com/1472-6955/9/5 (diakses pada tanggal 25 November 2018)

Ong, A. D., Edwards, L. M., & Bergeman, C. (2006). Hope as a source of resilience in later adulthood. Personality and Individual Differences.

P.V, A., & Moli, G. (2012). Childlessness Among Women in India. Health and Population- Perspectives and Issues, 114- 131.

Pandanwati, K. &. (2012). Resiliensi Keluarga Pada Pasangan Dewasa Madya yang Tidak Memiliki Anak . Jurnal Psikologi Universitas Airlangga.

Purwanti, D. A. (2018). Hubungan Antara Resiliensi dan Psychological Wellbeing Pada Ibu yang Memiliki Anak dengan Autis. Jurnal Empati, 284- 285.

Qu, L., Weston, R., & Kilmartin, C. (2000). Effects of Changing Personal Relationship on Decisions About Having Children. Australian Institute of Family Studies, 14- 19.

Reivich, K., & Shatte, A. (2002). The Resilience Factor: 7 Keys to Finding Your Inner Strength and Overcoming Life’s Hurdles. Three Rivers Press.

Snyder, C. R., Irving, L. M., & Anderson, J. R. (1991). Hope and Health.

Snyder, C., & Lopez, S. J. (2002). Handbook of Psositive Psychology. In C. Snyder, K.L. Rand, & D.R. Sigmon, Hope Theory. New York: University Press, Inc.

Snyder, e. a. (1996). Development and Validation of the State Hope Scale. Journal of Personality and Social Psychology.

Ulfah, M. U. (2014). Gambaran Subjective Well-Being pada Wanita Involuntary Childless. Jurnal Penelitian Psikologi, 02.


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


##submission.copyrightStatement##

##submission.license.cc.by4.footer##

INSAN JPKM Telah Terindeks:

   
  

 

INSAN JPKM Telah Terdaftar Dengan:

p-ISSN:2528-0104 ; e-ISSN 2528-5181


Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional

Statistik Jurnal

Lihat Statistik