Hubungan Berat Badan Lahir Rendah dan Penyakit Infeksi dengan Kejadian Stunting pada Baduta di Desa Maron Kidul Kecamatan Maron Kabupaten Probolinggo

Novianti Tysmala Dewi, Dhenok Widari

= http://dx.doi.org/10.20473/amnt.v2i4.2018.373-381
Abstract views = 1570 times | downloads = 4827 times

Abstract


Background: Stunting is a nutritional problem that has a high prevalence in Indonesia. Stunting among children under two years of age has a higher risk compared to other age groups because it will permanently affect the physical and cognitive development of children in the future. Factors that can cause stunting include low birth weight and infectious diseases.

Objectives: The aim of this study was to determine the relationship between low birth weight and infection disease with incident of stunting among children under two years of age in Maron sub district, District of Probolinggo, East Java.

Methods: This research was an observational research with case-control design. Sampling technique using multistage random sampling. the study was conducted in June until July 2018. The samples of study were 52 children (26 stunted children in case group and 26 normal growth children in control group. Data collection of infectious diseases was carried out by structured questionnaire interviews and medical records while low birth weight was obtained by looking at KIA book. Stunting was determined from measurement of children's recumbent length by metline. Data were analyzed by using chi square test for determining odds ratio.

Results: The results showed that low birth weight (p=0.042; OR=0.157; 95% CI: 0.030-0.822) and infection disease (p=0.049; OR=3.071; 95% CI: 1.155-11.861) had significant relation with stunting among children under two years of age.

Conclusions: Low birth weight and infection disease in the last 3 months increased the risk of 0.157 and 3.017 times stunting among children under two years of age. It is recommended for children under two years of age who have low birth weight and infectious disease should be given special attention by Integrated Health Post and there should be a monitoring related development routinely so developmental disruptions can be identified and immediately get the treatment.
ABSTRAK
Latar Belakang:Stunting merupakan masalah gizi yang memiliki prevalensi tinggi di Indonesia. Stunting pada baduta memiliki risiko lebih tinggi jika dibanding dengan kelompok usia lain karena akan berdampak secara permanen terhadap perkembangan fisik dan kognitif anak dimasa depan. Faktor penyebab stunting diantaranya adalah berat badan lahir rendah dan penyakit infeksi.

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk untuk menganalisis hubungan antara berat badan lahir rendah dan penyakit infeksi dengan kejadian stunting pada baduta di Desa Maron Kidul Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo.

Metode: Jenis penelitian menggunakan desain case-control. Sampel diambil dengan teknik sampel acak bertahap. Penelitian dilakukan pada bulan Juni hingga Juli 2018. Besar sampel sebanyak 52 baduta (26 anak stunting dan 26 anak non-stunting). Pengumpulan data penyakit infeksi dilakukan dengan wawancara kuisioner terstruktur dan rekam medik sedangkan berat badan lahir rendah diperoleh dengan melihat buku KIA. Penentuan stunting baduta diperoleh melalui pengukuran panjang badan dengan metline. Data dianalisis menggunakan chi-square untuk menentukan odds ratio.

Hasil:  Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan berat badan lahir rendah (p=0.042; OR=0,157; 95% CI: 0,030-0,822), dan penyakit infeksi (p=0,049; OR=3,071; 95% CI: 1,155-11,861) dengan kejadian stunting pada baduta. 

Kesimpulan:Berat badan lahir rendah dan Rerat badan lahir rendah dan dutdah diperoleh dengan melihat buku KIA. of alcohol penyakit infeksi dalam 3 bulan terakhir meningkatkan risiko sebesar 0,157 dan 3,017 kali terhadap kejadian stunting pada baduta. Disarankan untuk baduta yang memiliki masalah BBLR dan penyakit infeksi diberikan perhatian khusus oleh posyandu serta perlu dilakukan peninjauan terkait perkembangan secara rutin agar gangguan perkembangan yang mungkin terjadi dapat segera dikenali dan diatasi.

Keywords


stunting, Low Birth Weight, infection disease

Full Text:

PDF

References


Direktorat Gizi Masyarakat. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Rencana Strateg. Kementeri. Kesehat. tahun 2015-2019 248 (2015). doi:351.077

World health statistics. Monitoring Health for the SDG’s. (World Health Organization, 2016).

Direktorat Gizi Masyarakat. Hasil Pemantauan Status Gizi. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2016). doi:10.1080/14783363.2011.637802

Sekretariat Wakil Presiden RI. 100 Kabupaten/kota prioritas untuk intervensi anak kerdil (stunting). 1, (2017).

Dinas kesehatan Probolinggo. Profil Kesehatan Kabupaten Probolinggo tahun 2016. (Dinas Kesehatan Probolinggo, 2016).

Amin, N. A. & Julia, M. Faktor Sosiodemografi dan Tinggi Badan Orangtua serta Hubungannya dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 6-23 Bulan. J. Gizi dan Diet. Indones. 2, 171 (2014).

Devriany, Wardani, Z. & Yuniar. The Differences of Exclusive Breastfeeding for Neonates Length. Indones. J. Public Heal. 14, 44–51 (2018).

Santos, I. S. et al. Late preterm birth is a risk factor for growth faltering in early childhood: A cohort study. BMC Pediatr. 9, 1–8 (2009).

Proverawati, A. & Ismawati, C. Berat Badan Lahir Rendah. (Nuha Medika, 2010).

Nurillah, A., Kencana, S. & Indri Yunita, S. Panjang Badan Lahir Pendek Sebagai Salah Satu Faktor Determinan Keterlambatan Tumbuh Kembang Anak Umur 6-23 Bulan Di Kelurahan Jaticempaka, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi. J. Ekol. Kesehat. 15, 3–9 (2016).

The World Bank. Nutritional Failure in Ecuador. World Bank Country Study (2007). doi:10.1596/978-0-8213-7019-3

UNICEF. Improving Child Nutrition - The achievable imperative for global progress. United Nations Children’s fund. (2013). doi:978-92-806-4686-3

Richard, S. A. et al. Diarrhea in early childhood: Short-Term association with weight and long-Term association with length. Am. J. Epidemiol. 178, 1129–1138 (2013).

Elyana, M. & Candra, A. Hubungan frekuensi ISPA dengan status gizi balita. 78, 1–12 (2009).

Lestari, W., Margawati, A. & Rahfiludin, M. Z. Stunting risk factors in children aged 6-24 months in Penanggalan sub district Subulussalam city of Aceh Province. J. Nutr. Indones. 3, 37–45 (2014).

Mar’atussalehah, A. & Bardosono, S. Prevalensi Anak Berisko Stunting dan Faktor-faktor yang Berhubungan : Studi Cross Sectional pada anak usia 3-9 tahun di Pondok Pesantren Tapak Sunan Condet pada tahun 2011 The Prevalance of Children with Stunting Risks and Its Related Factors : a crossect. 1–10 (2011).

Solehan, L. F. dan M. of Nutrition College , Volume 2 Nomor 4 Tahun 2013 Halaman 523-530. J. Nutr. Coll. 1, 127–133 (2012).

Lailatul, M. & Ni’mah., C. Hubungan Tingkat Pendidikan, Tingkat Pengetahuan dan Pola Asuh Ibu dengan Wasting dan Stunting pada Balita Keluarga Miskin. Media Gizi Indones. 10, 84–90 (2015).

Chamilia, D. & Nindya, T. S. Hubungan Riwayat Penyakit Diare dan Praktik Higiene dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 24-59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Simolawang , Surabaya. Amerta Nutr. 1, 243–251 (2017).

Illahi, R. . Hubungan pendapatan keluarga, berat lahir, dan panjang lahir dengan kejadian. 3, 1–14 (2017).

Bishwakarma, R. & Vanneman, R. D. Spatial Inequality in Child Nutrition : Implications of Regional Context and Individual/Household Composition. Disertasi Univ. Maryland, Coll. Park 119–140 (2011).

Sediaoetama, A. . Ilmu gizi untuk mahasiswa dan profesi. (PT.Dian Rakyat, 2010).

Delemarre-van de Waal, H. A. Environmental factors influencing growth and pubertal development. Environ. Health Perspect. 101, 39–44 (1993).

Khairina & Modjo, R. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah ( BBLR ) di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Cipayung Kota Depok Provinsi Jawa Barat Tahun 2013. Dep. K3 Fak. Kesehat. Masy. Univ. Indones. 1–16 (2013). doi:10.1109/iih-msp.2015.42

Briawan, D. & Drajat Martianto, D. Faktor Risiko Stunting Pada Anak Usia 0—23 Bulan Di Provinsi Bali, Jawa Barat, Dan Nusa Tenggara Timur (Risk Factors of Stunting among 0—23 Month Old Children in Bali Province, West Java and East Nusa Tenggara). J. Gizi dan Pangan ISSN 1978, 125—132 (2014).

Rahayu, A. & Yulidasari, F. Riwayat Berat Badan Lahir Rendah dengan Kejadian Stunting pada Baduta. 67–73 (2015). doi:10.21109/kesmas.v10i2.882

Welasih, B. . & Wirjatmadi, B. Beberapa faktor yang berhubungan dengan status gizi balita stunting. Tanaffos 11, 12–17 (2012).

Weisz, A. et al. The duration of diarrhea and fever is associated with growth faltering in rural Malawian children aged 6-18 months. Nutr. J. 10, 25 (2011).

Batiro, B., Demissie, T., Halala, Y. & Anjulo, A. A. Determinants of stunting among children aged 6-59 months at Kindo Didaye woreda, Wolaita Zone, Southern Ethiopia: Unmatched case control study. PLoS One 12, 1–15 (2017).

Wellina, W. F., Kartasurya, M. I. & Rahfilludin, M. Z. Faktor risiko stunting pada anak umur 12-24 bulan. J. Gizi Indones. (ISSN 1858-4942) 5, 55–61 (2016).


Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Creative Commons License
AMERTA NUTR by Unair is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

p-ISSN : 2580-1163

e-ISSN : 2580-9776

AmertaNutr

INDEXING BY: