Studi Pertumbuhan Populasi Spirulina Sp Pada Skala Kultur Yang Berbeda
[Study of Spirulina Sp Population Growth in The Different Culture Scale]

Nanik Retno Buwono, Raden Qonitah Nurhasanah

= http://dx.doi.org/10.20473/jipk.v10i1.8516
Abstract views = 174 times | views = 917 times

Abstract


Abstrak
Salah satu mikroalga yang berpotensi untuk dikembangkan dan banyak terdapat di perairan Indonesia adalah Spirulina sp. Kultur Spirulina sp sebagai upaya peningkatan produksi dapat dilakukan dalam skala laboratorium dan skala semi massal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan populasi Spirulina sp dan perbandingan kualitas media air kultur pada skala kultur yang berbeda yaitu skala laboratorium dan skala semi massal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan parameter yang diukur yaitu kepadatan sel dari mikroalga dan parameter kualitas air meliputi suhu, pH, oksigen terlarut, nitrat dan orthofosfat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan kultur pakan alami Spirulina sp. skala laboratorium berlangsung selama 15 hari sedangkan pada skala semi massal adalah 15-30 hari. Kepadatan awal sel Spirulina sp. skala laboratorium yaitu 15.229 unit/ml dan skala semi massal 28.417 unit/ml. Puncak kepadatan populasi sel Spirulina sp. skala laboratorium terjadi pada hari ke-8 yaitu 181.963 unit/ml, sedangkan untuk skala semi massal masih terus mengalami peningkatan jumlah kepadatan sel pada hari ke-15 sebanyak 295.317 unit/ml. Hasil kualitas air yang diperoleh pada kultur Spirulina sp skala laboratorium maupun skala semi massal masih menunjang pertumbuhan mikroalga Spirulina sp secara optimal.
Kata kunci : Spirulina sp, teknik kultur , pertumbuhan, kualitas air
Abstract
One of the potential microalgae that have the potential to be developed and widely available in Indonesian waters is Spirulina sp. Spirulina sp culture as an effort to increase production can be done in laboratory scale and semi-mass scale. The purpose of this research was to determine the population growth of Spirulina sp and comparison the water of media culture at different culture scale i.e laboratory scale and semi-mass scale. The method used in this research is experimental method with parameters measured i.e cell density of microalgae and also water quality parameters include temperature, pH, dissolved oxygen, nitrate and orthophosphate. The results showed that the growth of Spirulina sp culture on the laboratory scale lasts for 15 days while on the semi-mass scale is 15 -30 days. The initial cell ensity of Spirulina sp on the laboratory scale is 15. 229 units / ml and on the semi-mass scale is 28,417 units / ml.The peak cell population density Spirulina sp on the laboratory scale occurred on the 8th day of 181,963 units / ml, while for the semi-mass scale still continues to increase the number of cell density on the 15th day of 295,317 units / ml. The quality of water obtained at Spirulina sp laboratory scale culture and semi-mass scale still support the growth of Spirulina sp microalgae optimally.
Keywords : Spirulina sp, culture techniques, growth, water quality


Keywords


aquaculture

Full Text:

PDF

References


DAFTAR PUSTAKA

Ariyati, S. (1998). Pengaruh Salinitas dan Dosis Pupuk Urea terhadap Pertumbuhan Populasi Spirulina sp. Skripsi. Jurusan Biologi. Fakultas Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam. Semarang: Universitas Diponegoro.

Arizuna, M., D. Suprapto., dan M. R. Muskananfola. (2012). Kandungan Nitrat dan Fosfat dalam Air Pori Sedemen di Sungai dan Muara Sungai Wedung Demak. Diponegoro Journal of Maquares, 3 (1) : 7 -16

Astiania, F., I. Dewiyanti dan S. Mellisa. (2016). Pengaruh Media Kultur yang Berbeda terhadap Laju Pertumbuhan dan Biomassa Spirulina sp. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kelautan dan Perikanan Unsyiah, 1 (3) : 441-447

Cahyaningsih, S dan S. Subyakto. (2009). Kultur Massal Scenedesmus sp. sebagai Upaya Penyedia Pakan Rotifera dalam Bentuk Alami Maupun Konsentrat. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. 1 (2) : 143-147.

Chrismada, T, P. Lily, dan M. Yayah. (2006). Pengaruh Konsentrasi Nitrogen dan Fosfor terhadap Pertumbuhan, Kandungan Protein, Karbohidrat dan Fikosianin pada Kultur Spirulina fusiformis. Berita Biologi, 8 (3).

Ciferri, O.(1983). Spirulina, The Edible Microorganism. Microbiological Reviews. Vol. 47, No. 4 p. 551-578. American Society for Microbiology

Grobbelaar, J.U. (2004). Algal Nutrition : Mineral Nutrition. Handbook of Microalgal Culture, Biotechnology And Applied Phycology. Iowa, USA: Blackwell Publ Ltd. hlm. 97 – 115.

Hariyati, R. (2008). Pertumbuhan dan Biomassa Spirulina sp. dalam Skala Laboratoris. Laboratorium Ekologi dan Biosistematik. Jurusan Biologi. FMIPA. Semarang: Universitas Diponegoro. Vol 10 (1) : 19-22.

Hastuti, D.S dan H. Handajani. (2001). Budidaya Pakan Alami. Fakultas Peternakan-Perikanan. Malang: UMM.

Herawati, V. E, dan J. Hutabarat. (2014). Pengaruh pertumbuhan, lemak dan profil asam amino essensial Skeletonema cotatum dalam kultur massa menggunakan media kultur teknis yang berbeda. Jurnal Aquasains. 221 : 226.

Hu, Q. (2004a). Environmental Effect on Cell Composition. Di dalam Richmond, A.E. (editor). Handbook of Microalgal Culture, Biotechtology and Applied Phycology. Iowa, USA: Blackwell Publ Ltd. hlm: 84

Isnansetyo, A dan Kurniastuty. (1995). Teknik Kultur Phytoplankton dan Zooplankton. Pakan Alami untuk Pembenihan Organisme Laut. Yogyakarta: Kanisius.

Kordi, M.G.H. dan A.B. Tanjung. (2007). Pengelolaan Kualitas Air dalam Budidaya Perairan. Jakarta : Rineka Cipta

Morris, E.P., and J.C. Kromkamp. (2003). Influence of Temperature on the Relationship Between Oxygenand Fluorescence-based Estimates of Photosynthetic Parameters in a Marine Benthic Diatom (Cylindrotheca closterum). Eur. J. Phycol. 38 : 133-142.

Peraturan Pemerintah RI No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran.

Pramushinta, G; E.D.Masithah; dan B.D.Rahardja. (2012). Pengaruh Pemberian Pupuk Cair Limbah Ikan Lemuru terhadap Kandungan Karotenoid Spirulina platensis. Journal of Marine and Coastal Science, 1 (2) : 91 -100.

Richmond, A. (1986). Cell Response to Enviromental Factors. In : Richmond, A. (Ed.), Handbook of Microalgae Mass Culture. Boca Raton: CRC Press. p : 69 – 99.

Rusyani, E. (2001). Pengaruh Dosis Zeolit yang Berbeda terhadap Pertumbuhan Isochrysis galbana Klon Tahiti Skala Laboratorium dama Media Komersial. Skripsi. Program Studi Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Sari, L.A. (2009). Pengaruh Penambahan FeCl3 Terhadap Pertumbuhan spirulina platensis yang Dikultur pada Media Asal Blotong Kering. Artikel Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Surabaya : Universitas Airlangga.

Subarjanti, H.U. (2000). Ekologi Perairan. Fakultas Perikanan. Malang: Universitas Brawijaya.

Subarijanti. (2005). Pemupukan dan Kesuburan Perairan. Fakultas Perikanan. Malang: Universitas Brawijaya.

Sukardi, P, T. Winanto, Hartoyo, T.B. Pramono dan E.S. Wibowo. (2014). Mikroenkapsulasi Protein Sel Tunggal dari Berbagai Jenis Mikroalga. Jurnal Akuakultur Indonesia, 13 (2) : 115-119.

Utomo, N.B.P, Winarti dan Erlina. (2005). Pertumbuhan Spirulina platensis yang dikultur dengan Pupuk Inorganik (Urea, TSP dan ZA) dan Kotoran Ayam. Jurnal Akuakultur Indonesia, 4 (1) : 41-48

Widyartini, D.S. (2007). Pertumbuhan Mikroalga Spirulina Hasil Kultur skala Semi Massal. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Purwokerto: Universitas Soedirman.

Yusuf, M., G. Handoyo., Muslim dan S.S.Y.Wulandari. (2012). Karakteristik Pola Arus Dalam Kaitannya dengan Kondisi Kualitas Perairan dan Kelimpahan Fitoplankton di Perairan Kawasan Taman Nasional Karimun Jawa. Buletin Oceanografi Mirna, 1 : 63


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan

 

          This JIPK is indexed by:

  

 

  

 

 

View JIPK Stats

 

 

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.